Catching Elephant is a theme by Andy Taylor
ini adalah sebuah percobaan
yakinlah. ini hanya sebuah percobaan
berhasil atau tidaknya
tidak tergantung pada saya, anda, kita, atau kami
lupakan saja tujuan, nikmati perjalanan
lihat! Ada pelangi di ujung sana!
Ahoy, Shelter 1, lama sudah kita tak bertemu. Masih kuingat meja itu, dan tumpukan surat penuh gurat canda. Masih seperti itu. Pintu tempat aku melangkah masuk dengan penuh suka cita, juga tempat aku pergi keluar dengan sepulas warna sendu. Kini agak berdebu. Kucari kehadiranmu. Tiada. Secarik kertas kuning mengabarkan: kau sedang pergi sebentar. Lalu kuambil buku tamu, menuliskan sebuah pesan untukmu di situ.. **** Hei, si cantik penjaga Shelter 1, apa kabarmu? Sehat selalu kuharap. Aku masih dalam beberapa ‘kemasihan’ yang sama. Masih suka muncul di buku orang, tapi belum juga tampil dengan buku sendiri. Masih menunggu pinangan Penguin atau O’Henry, agar aku bisa berlagak menolak sambil merona tersapu-sapu. Ah, terbayang kau datang mengingatkan: “Ndra, kata yang benar itu ‘tersipu-sipu’” lalu aku menjawab: “Ya, itu benar. Tapi aku lebih suka ‘tersapu-sapu’” Dan kau pun tersenyum, berusaha tampak sabar, meski dalam hati ingin meninjuku sampai terkapar. Dan aku akan tersenyum lebar, melihatmu berusaha menahan sabar. Kau tampak lebih cantik saat seperti itu. **** Selain itu, ada juga beberapa ‘ketidakmasihan’. Aku sudah tidak lagi menjadi buruh. Sekarang sedang menjalani kehidupan baru, sebagai pemilik warung kopi. Tidak lagi menutup diri, mulai rajin memenuhi undangan kesana-kemari. Aku tetap tidak suka, tapi kulakoni juga. Serta beberapa hal ‘gak penting’ lainnya. **** Ummh.. Ya, itu saja dulu. Sekalian mencoba apakah akun _posting by email_ di Tumblr-ku masih berfungsi atau tidak. Kecup hangat dariku, semoga bisa menjagamu dari masuk angie dan malaria. *** Selalu, Kangmas Gejrot-Lan-Gasrak-Gusruk-Teu-Paruguh-mu.
I connected Tumblr to my http://flavors.me page - http://flavors.me/udo_indra
Pagi hari adalah kala Lily. Kala aku gelisah ingin mendengar suaramu. Bertambah resah, kerna tahu: ada yang mendengarnya lebih dulu. Kala aku merindu rinai tawamu. Meski harus berbagi: dengan dia yang memilikinya sebelum aku… Pagi hari, adalah kala Lily. Terajut sebagai buket dalam genggaman pengantin. Pipi bersepuh rona merah dadu. Kala cinta membuat aliran darah membeku. Suaraku terpagut di balik pintu. Kau bertanya: “Mengapa begitu kaku?”… Adalah kasih, adalah kau, menyepuh katakata berselimut haru. Teramat ingin merengkuhmu.. Di pagi hari, kala sekuntum Lily bersemi di hati, sebelum yang lain sempat melihat senyum terindah melekat di bibirmu. Kala itu, kupinta hanya untukku.
**PROLOG** Pada awalnya adalah keberanian, lalu sejalin tegursapa. Kejujuran jadi pembuka halaman. saat segenap rasa bergelora. Cukupkah kukatakan bahwa aku cinta? Kali ini aku ingin mengukuh derap waktu dalam nada. Beranjak ke halaman awal, melihat sekuntum bakung berwarna biru tumbuh merona. Kurengkuh, tanpa merusak adanya. Kupinta selaksa, tanpa mengusik singgasana. Kukecup, dan aku pun terbawa… ** SAMPURASUN ** Biru, warnamu. Pantulan warna langit. Keluasan, kebebasan, tudung semesta kecilku.. Biru, auramu. Biaskan rona lautan. Keterhanyutan, tenggelamkan imaji fana, gelora debur menuju pantai.. Biru, biar laju musim berganti; kutetapkan diri, dengan kau sebagai prasasti.
‘warning: puisi ini kekiri-kirian…’
*
Bu Satpam bilang: semua akan
Cenderung belok ke kanan;
Tapi aku terbawa belok ke kiri
Dan tanpa dinyana, tanpa rencana
Aku dipertemukan dengan
La Amore di Concilia.
*
Bu Batik bilang: semua batik
Selalu menawan di sisi kanan;
Tapi kulihat sakunya ada di kiri
Dalam repetisi nan menawan..
Bu Batik tersenyum, manis sekali
Meski tetap tak semanis
La Amore di Concilia.
*
Jangan coba cari di Googie translate
Atau kamus daring lainnya;
Jangan pula melihat hanya dari kanan
Kerna kau takkan menemukan
Arti sesungguhnya dari
La Amore di Concilia! :)
.
Ayahku adalah tonggak, pula mercusuar.
Tak goyah diterjang ombak,
begitu pandu dan kekar.
Beliau keras, teramat keras
namun semata kerna dia teramat sayang.
.
Ibundaku adalah seorang penempa daya
dalam segara ketulusannya.
Saat kukatakan hendak jadi gelandangan:
Dia titipkan setampuk doa dan dukungan.
Tiada cita yang tak mulia baginya
Tiada mimpi yang tak layak.
Beliau adalah Dewi Athena dari Yunani,
pula Baginda Ratu dari Spartan!
.
Mereka selalu hadir,
pada tiap salam: kiri dan kanan.
.
untuk: Maria Papadaki
.
.
Aku tak bisa memelukmu, meski tubuh ini t’rus bergetar
dalam damba;
Aku tak bisa mengecupmu, meski bibir ini t’lah terbakar
penuh pinta.
.
Seperti peziarah dari nisan terlunta,
Seperti tukang kebun dari tanah tak bernama.
.
Maria, Maria..
Mengapa kau menerimaku, namun
menutup pintu senantiasa?