Because life is short, let's write some short notes of it..

 

Mencoba Dodol Kacang

Sore tadi ada penjual penganan lewat di depan rumah. Seorang ibu paruh baya, dengan tahi lalat di pipi kanannya. Dia membawa sebuah nampan berisi kue-kue dagangan.

“Dodol kacaang..! Dodol Kacaaaang..! Bararade yeuhh..?!” Begitu dia berseru sambil berkeliling.

Aku tertarik untuk membeli. Kupanggil dia. Dengan ramah dan cekatan dia menaruh nampan dan membuka tudung penutupnya. “Masih anget kang.. sok atuhh..”

Enak juga tampaknya, jika sore ini duduk-duduk di depan teras sambil mengganyam dodol kacang ditemani segelas kopi tanpa ampas. Kubeli dodolnya dua lanjar. Tiga ribu perak. Si ibu tersenyum senang. Dia memandangiku dengan raut muka sumringah, “Tumben kang, beli dodol… biasanya bikin puisi?”

“Iya, ini lagi nyoba posting pake Tumblr…” Jawabku cuek.

Lalu dia permisi, hendak meneruskan berkeliling perumahan. Sekilas kuperhatikan punggungnya. Begitu perkasa. Orang-orang bilang dia sudah dua kali menikah. Suami pertama dan ke-dua sama-sama pecundangnya. Setelah cerai untuk yang ke-dua kali, dia memutuskan untuk hidup mandiri. Tak mau mengandalkan siapa pun untuk mengasapi dapurnya. Bila nanti dia jatuh cinta lagi, semoga dengan seseorang yang rajin menulis, membaca, dan mengisi sumur sambil bernyanyi. Tanpa sadar aku berdoa untuknya. Amieenn.

Dari kejauhan, kudengar suaranya yang lantang berkumandang.

“Dodol kacaaang, dodol kacaang.. bararaaaaddeeeeeee….!”

Blog comments powered by Disqus