Catching Elephant is a theme by Andy Taylor
‘Kepanjangan Nafas’
istilah ini pertama kali Udo baca dalam sebuah buku kumpulan surat-menyurat H.B. Jassin (alm.). Waktu itu dia menggunakan istilah ini untuk mengomentari puisi seorang penyair muda yang sedang belajar lebih dalam tentang puisi.
Sebuah larik dikatakan ‘kepanjangan nafas’ ketika:
“Batu itu bergeluntur
Di langit petir menegur
Aku ingin dia memapahku dan menjaga serta membangunkanku.. bla-bla..”
Lihat, sementara 2 larik awal sudah terbentuk rapi dan saling padu membentuk suasana: bencana alam. Larik ke-3 malah bercerita ngelantur ke arah lain.. tambah lagi jumlah kata yang tidak berimbang dengan teman2nya.. Seperti anak kecil yang datang ke tempat bermain, tapi menolak untuk bermain bersama teman-teman yang ada di sana.
Tarik nafas yuk, lalu hembuskan dengan penuh kasih sayang..
Sekarang Udo akan coba menunjukkan contoh perubahan dari puisi yang kepanjangan nafas di atas, menjadi sebuah puisi yang nafasnya lebih mengalur..
Setelah Udo pangkas bagian yang tidak penting serta mengganti arah dari tiap larik agar bisa menuju pada satu kepaduan, maka jadilah puisi berikut ini sebagai sebuah revisi..
“…
Saat di langit petir menegur
Saat kepala batu ini tersungkur
Aku kembali mengenangnya:
Bagian terindah dari nostalgia.
Aku ingin dia hadir
memapahku, menjaga
serta membangunkanku
dari tidur panjang ini
…”
Perhatikan bagaimana kalimat yang tadinya berada pada 1 larik bisa kita gubah menjadi sebuah kwatrin (sajak 4 larik). Sebagai latihan, cobalah untuk membuat variasi dari puisi di atas menjadi rangkaian kuplet (sajak 2 larik).
Perhatikan juga nuansa puitis yang terbangun saat kalimat panjang dipatah-patahkan dalam rangkaian larik (ingatlah bahwa muasal puisi adalah pantun dan pepatah).
Demikian kiranya…